Sabtu, 21 November 2015

PUISI RUMPUT

Prolog

Percayalah, masa muda takkan pernah kembali
Hidup di alam kepalsuan duniawi
ibarat mengurai benang kusut, kata al-Ghazali
adalah peluang emas umur waktu yang diberikan
kata Soeharto
Pujangga pun mengata sama
Nabi yang mulia pernah mengeluarkan sabda pemula
Dan kesemua itu ditegaskan pula dalam kitab suci akhir zaman
Dalam seruan pemilik alam
É
Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal. (Q.S. Al-Mukmin:39)

Kesemua itu bukan mainan kosong kata-kata
Dan bukan pula bualan dunia
Dan memang itulah realita
Kini tinggal dari sudut pandang kita dalam mengambil makna
Apakah dari tirai kekesatan hati?
Atau dari kesadaran nurani insan lemah
Yang terpuruk dalam keberadaan menerima tanggungjawab pemangku khalifah di muka bumi





BAPAK
:
Anak ku!
Kenapa permadani hijau kau ubah hitam
Lalu, mengapa kini baru kau mengeluh diam
Anak ku!
Cucu dan keturunan ku, kemana mereka berteduh
Kubur ku kau buatkan jendela-jendela indah
Sementara…Kau lupakan kelangsungan hidup mereka
Aku sudah mati
Aku bahagia di sini
Aku khawatirkan kamu
Aku risaukan cucu ku
Tlah lama ku berjuang mengusir penjajah
Kau malah menjadi kacung kembali
Sesudah bebas merdeka



ANAK
:
(Bangun terhenyak…)
Tidak, tidaaaaak (memecah kesunyian malam. Diam tepekur memandang langit-langit…Berdo’a)
Wahai pemilik sejuta permadani
Wahai penguasa segala makhluk
Hamba bentuk kebodohan
Hamba lukisan kekerdilan
Hamba silau harta
Hamba tertusuk gemerlap dunia
Ampunilah segala kekeliruan
(Tertunduk, merapatkan wajah…sujud tepekur)

SEORANG PEMUDA DENGAN DANDANAN NYENTRIK DAN PEMUDI SERONOK

PEMUDA
:
Ha…ha…ha
Tak kan ada lagi orang yang berani menghina ku
Dulu Aku gembala
Sekarang Aku kaya raya, ha…ha…ha
Siapa tak taat pada ku
Siapa tak hormati Aku
Aku punya segala kuasa
Aku dapat memuaskan nafsu ku
Wanita? Hk…
Sorga dunia ku
Arak? Hk…
Tembang kenikmatan mimpi

PEMUDI
:
Dulu Aku diacuhkan karena Aku penyakitan
Dulu Aku disisihkan  karena Aku anak bajingan
Aku manusia…sama seperti kalian
Manusia-manusia sok suci!
Yang hanya mencela dan menyebar fitnah
Aku menjadi liar karena tidak ada yang memperhatikan
Aku tumbuh binal dalam lingkungan jalanan
Aku tidak peduli
Yang penting bagi ku kini bagaimana Aku hidup
Dan membalas sakit hati
(Tertunduk, lalu menangis…)



PAK TUA
:
(Mengenakan pakaian lusuh)
Aku benci kepada ketidak-adilan
Mengapa Aku disalahkan
Aku hanya mengambil bagian  ku
Yang ada padanya
Tapi kenapa Aku dipenjarakan



IBU TUA
:
(Dengan keranjang di punggung)
Suami ku…!
Anak-anak mu tak tahu malu


Mereka berebut harta sepeninggal mu
Lalu Aku dicampakkan
Aku tertatih di tepian
Mereka saling berbunuhan
Si Sulung ke alam baka
Si Bungsu menyusul mu
Dan harta mu habis di meja judi
Karena ketamakan saudara mu
Aku hidup memulung sisa

DUA ORANG ANAK KECIL



ADIK
:
Kak…!
Sekarang rumah-rumah jadi gedung, ya!
Mungkin ini namanya kemajuan negeri
O, ya, Kak, betulkah demikian…
Aku tidak lagi bisa bebas bermain
Katanya kalau Aku masuk takut kotor
Jijik melihat ku
Pepohonan sudah tiada
 Tak bisa kita memanjat lagi



KAKAK

:
Ingat pesan Ibu, Dik !
Belajar yang baik agar bisa seperti mereka
Tapi… untuk makan pun kita susah
Darimana biaya  jika kita akan sekolah
(menatap kosong ke depan)



SONG


“Balada Rumput”

Aku di tengah padang gembala
Dinikmati berjuta domba
Aku diinjak kaki sang Penggembala
Mungkin suratan bagi diri ku

Ku terpaku diam membisu
Bawa lamunan sesali diri
Karena bodoh belenggu jiwa
Pandangan picik kehidupan
Ditipu dihina
Jadi bahan tawaan
Karena aku orang yang papa

Jumat, 20 November 2015

Sangereng Senja Merah Jambu

Sangereng senja merah jambu. Mengenang kebersamaan kita dalam masa yang singkat. Bersenda gurau dengan santri-santri TPA, di bukit tempat biasa kita melepas lelah setelah seharian membantu mengajar di SD, MI dan TPA. Menikmati pemandangan alam ciptaan Allah dengan sawah yang berundak dan danau hijau tempat anak-anak desa biasa terjun bebas dari tebing-tebing bekas kupasan teras. Bukit Sangereng menjadi saksi kebersamaan kita dalam melaksanakan program pemberdayaan masyarakat STAI Laa Roiba.
walau lelah kita kayuh asa
perlahan tapi pasti
gapai citra diri

"Yakub, naik sini, kita foto bareng." teriak ku pada salah seorang santri TPA yang menyembul dari balik bukit. Anak itu berlari menghampiri kami dan sesi foto ala artis pun terjadi. Ada Bon dan aku sebagai pasangan, kumpulan keluarga Echi dengan anak-anaknya yang aku ikut nimbrung di dalamnya. Narsisnya aku selalu ingin ikut di setiap sesi foto selama kegiatan PPM. Demikian Echi menjulukiku ...
Aku masih di bukit dengan santri-santri TPA, berlatih nasyid sepohon kayu dan hymne TPA. Sesaat kemudian kami pulang untuk persiapan salat maghrib. Bon dan Echi minta di antar mandi didampingi isteri Pak Ustadz melewati pintu selingkuh tempat Pak Rt tinggal. Pulang mandi berkeringat kembali karena jalan yang turun-naik. Echi masih ribut gatal-gatal walau sudah mandi. DL..., mengutip ucapan Bon yang berasal dari empunya gatal-gatal. Derita Lo...!
"Neeh, pake baju gue!" Bon baik hati memberikan pinjaman kaos birunya.
Dan ajaib, Echi tidak ribut gatal-gatal badannya. 
Salat maghrib aku laksanakan berjamaah dengan Bon di ruang tamu Posko. Bu Uni dan Bu Amah salat di kamar. Echi duduk manis di Sofa, entah apa yang dikerjakannya. Maklum sedang M. Selesai maghrib kami berkumpul bersama, membaca surah Yasin dan mendoakan arwah keluarga dan kerabat yang telah tiada.

Andai bisa kuulang masa
ingin kutetap bersama
meniti ridho-Nya

"Sayang, ya...! Kita tidak bisa kumpul bareng. Padahal ini kan malam terakhir kita bersama." Ujar Bon gak menyesalkan.
"Maklumin aja, kelompok kita kan anggotanya banyak yang pada sibuk." Sela Bu Uni.

Malam menjelang. Langit merah berganti biru dengan hiasan bintang-gemintang yang bertebaran di angkasa dengan sedikit kapas-kapas awan. Cerah dengan rembulan yang masih malu menampakan diri. Aku berinisiatif mengajak Bon dan Echi menuliskan kenangannya selama PPM di Sangereng. Dan seperti ini hasilnya...

Sangereng 2009
Dear Diary!
Di malam yang sunyi ku terpaku menatap gelapnya malam. Malam ini baru kusadari bahwa hidup ini harus penuh warna dan cahaya. Tidak terasa, hampir sebulan penuh perjalanan PPM di Sangereng. Dan malam ini adalah malam terakhir. Tapi sayang, malam ini tidak seindah seperti yang Bon rasakan karena di malam terakhir yang seharusnya malam puncak kebersamaan tidak semua bisa hadir. Bon hanya berlima. Tapi Bon seneng, kok! Kita di sini bahagia, karena saat ini kami merasakan indahnya kebersamaan walaupun cuma berlima.

Terima kasih Tuhan, karena dengan izin dan kekuasaan-Mu Bon masih diberi kesempatan bisa kumpul di tempat PPM. Masih bisa bercanda sama Pak Nanda, Ibu Surni dan Ibu Amah yang pada baik. Bisa bercanda sama Echi yang ngocol.

Diary...!
Tempat PPM di Sangereng ini jauh banget. Jauh dari warung dan jalan. Tempatnya juga gersang tidak ada air. Lalu mandi harus jalan jauh naik-turun. Tapi dibalik itu semua tersimpan keangungan Allah. Karena walaupun gersang, pagi hari kami masih bisa merasakan matahari yang menyambut pagi yang cerah dan bersahabat. Sore hari bisa melihat matahari tenggelam sambil mengucapkan met malam. Bentuk dan cahayanya begitu sempurna.... Malamnya simfoni binatang malam menambah kesyahduan.

Tuhan...
Kalau boleh aku memohon, janganlah Engkau hilangkan rasa kebersamaan ini. Aku ingin rasa ini tidak hilang sampai kapan pun. Terima kasih Tuhan. Terima kasih atas segalanya.
3honsay

Rabu malam Kamis, 13 Agustus 2009
Pukul 20:48 WIB
Di malam yang sunyi sepi ini aku merenung. Tak terasa malam ini malam terakhir kami semua. Hampir satu bulan aku dan teman-teman menjalankan aktifitas PPM di Sangereng. Pada awalnya aku merasa tidak bisa hidup di desa yang terpencil seperti ini yang jauh berbeda dengan ...
(Cerita ini tidak berlanjut karena Echi sibuk menerima telepoh masuk entah darimana...)

Bu Amah dan Bu Uni saling curhat di kamar. Bon curhat ingin segera punya pasangan. Aku hanya mengucap Insya Allah. Sebab jodoh ditangan Tuhan. Malam terakhir di Sangereng menjadi begitu bermakna.
خير الناس انفعهم للناس
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Malam kian larut. Sambil menunggu TM (Talk Mania Telkomsel), kami asyik bersenda-gurau menikmati kebersamaan yang walau sesaat semoga kian mempererat tali ukhuwah Islamiyah.
Medio Agustus 2009
Adiya Lambada Iswara (ALI)

Kamis, 19 November 2015

One Time One Moment in My Life



One time, one moment in my life.
Kemarau masih garang menunjukkan wibawanya, asap di beberapa titik di sebagian wilayah belum juga menunjukkan tanda-tanda kesudahannya. Segala upaya di coba yang pada akhirnya kembali memohon kepada Yang Kuasa untuk menurunkan rahmat-NYa, salat meminta hujan. September 2015.
Nda, tos beres acan proposal? Ketua KKG meminta ku segera menyelesaikan proposal untuk pelaksanaan Bintek Kurtilas yang telah digagas pada pertemuan KKG-PAI beberapa minggu yang lalu. Aku yang pesimis akan pelaksanaan Bintek ini segera browsing internet untuk mencari contoh proposal, dan Alhamdulillah dapat. Segera kuserahkan kepada Ketua, dan meminta untuk tidak mencantumkanku sebagai ketua pelaksana, dan dialihkan kepada kawan yang lebih senior.
Kami menghadap Kepala UPT memohon solusi untuk dapat terlaksananya kegiatan dimaksud. Pelaksanaan workshop yang sedianya diadakan satu hari, ditambah menjadi dua hari lagi sesuai isi proposal, harus komitmen… demikian yang disampaikan oleh Kepala UPT. Untuk pendanaannya beliau bersedia membantu berbicara dengan K3S, dan untuk undangan peserta biar UPT yang mengundang langsung agar kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik.
Hari berjalan begitu cepat, bolak-balik ke Kecamatan dengan medan jalan yang cukup berat. Rapat Koordinasi Panitia berkali-kali, dan kemudian diambil keputusan bahwa Panitia hanya ditugaskan sebagai penyelenggara, untuk yang lain-lain diambil alih oleh K3S.
Persiapan yang dikejar deadline membutuhkan tenaga ekstra dan pemikiran yang tepat, Ketua KKG siap untuk mendatangkan instruktur nasional dan menyiapkan spanduk, ketua pelaksana sibuk membeli ATK Peserta dan sewa bangku yang kurang. Bendahara yang tidak pernah pegang uang mempersiapkan acara sampai selesai dibantu kawan panitia yang lain dan membereskan tempat penyelenggaraan acara di Gedung PGRI, gedung hasil rereongan bertahun-tahun para anggota nya yang dipotong dari uang Kespeg yang dalam proses Finishing. Semua berjibaku, maklum hanya beberapa gelintir guru agama yang ada di Kecamatan Rumpin, selebihnya guru kelas. Tugas ku membeli CD blank, dan  duduk manis di depan laptop, mempersiapkan administrasi lainnya dan fb-an…keranjingan.
Malam hari, begadang buat form biodata peserta, print-out di rumah berlembar-lembar khawatir besok tidak keburu di fotocopy. Pukul 22.30 Wib Ketua KKG melalui SMS memberitahu sudah menemukan kertas plano yang dicari, akhirnya inisiatif membuat kertas Plano dari lembaran kertas A3 yang terlanjur dibuat dengan cara ditempel sia-sia.
Pagi pukul 06.30 Wib berangkat ke tempat penyelenggaraan acara dengan mata yang masih merah karena kurang tidur diantar oleh anak Ketua Pelaksana, memegang printer dengan tas yang sesak meluncur penuh semangat. Sampai di tujuan, sudah tampak beberapa peserta yang datang. Kuberikan biodata yang semalam diprint, memasang printer di sekretariat, dan… ngadat tidak mau beroperasi akibat jalan yang tidak rata. Hadeuh… sedang label peserta dan panitia belum tercetak. Solusi yang ditawarkan Ketua pelaksana ikut print di Kantor UPT, Alhamdulillah selesai walau hitam-putih.
Bingung, panik campur aduk, printer tak kunjung mau beroperasi sedang setumpuk pekerjaan membutuhkannya. Ya, Allah…tolong lah hamba-Mu ini… (meniru SOPO JARWO). Panitia yang lain sibuk menerima pendaftaran peserta, mempersiapkan acara pembukaan, fotocopy pre test dan materi instruktur yang sudah di print semalam, membeli baterai kamera dan microphone. Super sibuk.
Dan acara pun berlangsung sesuai jadwal, mengalir tenang dengan dukungan dari semua pihak, Kepala UPT, Ketua PGRI dan jajarannya, K3S, Para pengawas TK/SD, Pengawas PAI yang walau sedang sakit nya tuh di sini … setia hadir sampai acara selesai, dan tentunya para Panitia yang dengan motto ikhlas beramal bahu-membahu mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Yang membuatku lebih bahagia printer bisa beroperasi lagi walaupun hanya bertinta hitam, sedangkan print warna Cuma kuning saja. Ga papa lah yang penting bisa digunakan.
Setiap waktu setiap detik setiap menit yang tercurah ada  catatan amalnya, seberapa besar usaha kita ada hitungannya, tidak di dunia di akhirat kita kan mendapatkannya asalkan dibarengi niat ikhlas karena Allah. Tidak ada yang abadi di dunia ini, akhirat tempat kita kembali semoga lebih dipersiapkan dengan hitungan yang masak, jangan terlalu masyuk dilenakan dunia yang renta dengan hiasannya.

ALI, 20 Nopember 2015 

Selasa, 17 November 2015

Sendiri

Risau ku gelisah pada bola mata yang begitu indah membuat rasa ini tak bisa pisah pada seseorang yang membuatku bergairah dalam menikmati hari ke hari hidupku. Entah kapan bisa sua kembali setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu, kini tiba-tiba hadir dan menemani kesendirianku.

Apa kabar? kuharap kamu baik-baik saja. Dalam sesak nafas ku menahan kerinduan ku coba untuk sedikit tegar. melewati hari-hari penuh harap penuh rindu, menunggu tak jemu-jemu sekedar berucap salam, bertanya kabar, berbincang ringan, saling mendoakan untuk kebaikan bersama.

Aku sendiri di sini, di aula megah gedung PGRI yang dalam proses mempercantik dirinya, menikmati kesendirian setelah ditinggalkan teman-teman guru yang bermain bulutangkis. Sepi menggigit dengan setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan, memasukkan softcopy materi workshop dan desain sertifikat untuk peserta. Jenuh sendiri hanya berteman kesunyian, Menunggu-nunggu berharap yang dirindukan menemaniku.

Malam ini, seperti malam-malam dahulu berjibaku dengan waktu ketika masa-masa Pilkades, Pilkada, dan Pilpres. Suka duka berbaur menjadi satu membekaskan kenangan yang berarti tentang arti kebersamaan. Bersama dalam saling mengisi kekurangan, tanpa sungkan, tidak individualis, berbagi ilmu, dan seiring berlalunya waktu kenangan-kenangan itu yang selalu dirindukan. Berkeringat deras, memeras otak, mencari solusi terbaik dalam mengatasi keadaan. Alhamdulillah pada hari pertama kegiatan workshop berjalan lancar sesuai harapan. Kawan seiring saling membantu, menciptakan harmoni ukhuwah untuk suksesnya acara yang digagas dengan segala keterbatasan. Allah jua yang memberi jalan, segalanya dimudahkan.

Rindu tak sebatas temu
Cinta tak sebatas kata
segala cara dicoba
segala mampu ditempu

Begitulah adanya cinta semakin dipuja kian merana

Satu ilmu yang kudapat hari ini dari seorang kawan tentang kemudahan menggunakan mailmerge pada ms.office word untuk mengklik nama yang tidak harus dituliskan satu persatu lagi. Ah, ternyata dunia itu luas, banyak ilmu yang tidak kita bisa, harus banyak belajar, belajar dan belajar lagi. mengaplikasikannya dalam kehidupan untuk memudahkan meraih tujuan yang dicita-citakan. Dalam beberapa hari ini pun aku banyak belajar. Belajar kepada teman, sahabat, dan tentunya yang dirindukan. Belajar bahasa anak muda sekarang, belajar bahasa, belajar banyak hal yang dulu tidak didapat di bangku sekolah.

Waktu tepat pukul satu dinihari, aku masih di sini, melintasi cakrawala malam dengan angan yang melayang, melintasi dimensi waktu, menelusuri serba kemungkinan dan harapan.

Jangan pernah pergi
Jangan tinggalkan aku sendiri



Selasa, 27 Oktober 2015

Kebesaran-Nya dan Janji itu



Kebesaran-Nya dan Janji itu
“Nda, kamu lulus!” Setengah berteriak seorang teman menyeruak dari kerumunan orang-orang yang mencari namanya dalam daftar lulus ujian saringan masuk CPNS yang tertempel di dinding KUA kecamatan.
“Ah, mana mungkin…!” batinku. Selama ini yang ku tahu harus pakai uang. Kegagalan tahun lalu masih terus menghantuiku. Gagal karena tak ada uang. Walaupun ada, rasanya tak rela bila anak-isteriku harus makan dari penghasilan yang bukan hak ku.
Ujian CPNS kali ini kalau bukan karena kakak ku yang menggebu-gebu ikut, rasanya malas juga. Berhubung urusan persyaratan administrasi pendaftaran diselesaikan olehnya, ya, oke lah. Tinggal aku yang kebagian tugas mengajar 6 kelas sendirian selama beberapa hari.
Dengan harap-harap cemas aku mulai memasuki pelataran KUA. Pandanganku tertuju pada lembaran-lembaran kertas yang terpampang. Alhamdulillah, benar kata teman, aku lulus!
“Allahu akbar…Allahu akbar.” Tak henti mulutku bergumam. Tanpa terasa airmata menggenang di pelupuk mata.
Teringat protesku pada Tuhan akibat himpitan ekonomi dan ambang putus asa hadapi realitas hidup. Rumah bilik  dan sumur yang harus menumpang, hutang yang menjalar sana-sini, macetnya SPP dari murid yang tak seberapa.Harapan, ya, harapan terbayar dari Bantuan Khusus Guru (BKG) yang tak utuh atau stimulan gubernur lima puluh ribu rupiah perbulan yang dibayarkan pertahun dan kadang telat. Untuk sekedar bernafas, aku harus bolak-balik ke rumah orangtua tiap sabtu petang. Entah apa jadinya bila ujian kali ini tidak lulus. Mungkin seperti dulu, libur panjang sekolah menjadi buruh bangunan atau pabrik, dan anak-isteriku sementara kutitipkan di rumah orang tua.
“Ya, Allah…! Ramadhan ini bulan suci mu. Malam ini adalah rajanya malam. Aku hamba mu yang lemah, kenapa cobaan ini berat ku pikul? Izinkan lah aku sekedar bisa memperbaiki rumah yang mulai keropos. Sumur agar tidak merepotkan tetangga. Juga satu lagi, ya Allah…! Komputer agar aku bisa leluasa menulis.”
“Ya, Allah …! Tunjukkan bukti kekuasaan mu. Pecahkan lah tempurung orang-orang yang ber-kkn ria di tengah derita rakyat. Jadikan lah ujian CPNS di pemerintahan baru ini benar-benar milik mu. Bukan karena tangan-tangan kotor biang kesusahan zamrud khatulistiwa. Luluskan lah hamba mu ini, ya, Allah…!” sujud ku seiring kumandang azan subuh.
“Hei, Nda. Ngelamun aja. Gembira dong!” Seorang teman menepuk pundak ku.
“Iya, nih. Ayo kita rayakan di warung padang!” Sela teman ku yang lain.
“Nda selamat, ya! Inget waktu sama-sama kuliah, ente sering ana bonceng. Jangan sampai lupa kacang sama kulitnya, ya!” Muksin teman seperjuangan selama kuliah D2 dulu menimpali.
Teman-teman berkumpul mengelilingiku. Aku hanya bisa menjawab singkat, insya Allah.
Selang beberapa saat tak ada yang berkata-kata. Masing-masing sibuk memikirkan langkah hidup kedepan dan acara makan yang tadi di gagas pun hilang. Selain tak punya uang, semua sibuk dengan urusannya masing-masing.
“Nda, ayo pulang. Nunggu apa lagi?” kakak ku sudah siap dengan sepeda motornya. Setelah berpamitan dengan teman-teman, kami meninggalkan halaman KUA kecamatan.
Sepanjang perjalanan pulang kakak ku bercerita panjang lebar mengungkapkan segala perasaannya. Tentang kegembiraannya melihatku lulus menjadi obat penawar kekecewaan atas kegagalannya dalam ujian CPNS, tentang optimisme nya untuk terus ikut ujian sampai berhasil, dan yang aku salut dedikasinya dalam mendidik putra harapan bangsa tak pernah luntur.
Laju sepeda motor terasa lamban. Bekas-bekas ban pengangkut batu gunung dan pasir menyisakan kelupas aspal. Guyuran hujan semalam telah membuat adonan lumpur di sebagian belahan jalan. Tragis memang, tetapi itulah kenyataannya. Kekayaan perut bumi yang terus digerus tak serta merta jalanan menjadi mulus. Sama halnya dengan nasib pribumi.
Di sini pula lah ikrar terucap. Di kiri-kanan perkebunan karet, di jalanan yang juga penyaksi lenyapnya batang-batang karet yang menjelma perumahan atau warung-warung pinggir jalan. “Ya, Rabb. Bila hamba lulus, hamba ingin mendirikan MTs. agar anak-anak remaja tanggung desa hamba turut mengenyam pendidikan. Minimal sampai jenjang SLTP dan mampu membekali diri mereka menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks. Rabb. Kabulkanlah do’a ku, aamiin.” Begitu terus berulang sepanjang perjalanan ke kecamatan di seling Yaasin dan Waqi’ah yang tak lepas dari bibir.
Sebulan dua bulan berita penugasan tak juga terdengar. Hutang di warung kian membengkak. Tak jarang pemilik warung masam melayani berhutang. Gali lubang sampai ada kepastian melaksanakan jabatan.
Dua bulan berlalu, dan ikrar pada Tuhan pun harus segera dilaksanakan. Buat proposal, Alhamdulillah dapat untuk membuat spanduk dan brosur yang di pasang di jalanan desa dan warung-warung tepi jalan. Semua ini berkat bantuan dan saran sesama pendidik yang ingin kemajuan desanya.
Dan liburan pun usai sudah. Jelang tahun ajaran baru hanya tujuh orang yang mendaftar.
“Buat apa sekolah di sana? Izinnya saja belum ada. Siapa yang ngajar? Darimana bayar honornya?” Nada-nada sumbang berbaur dengan ketakberdayaanku.
Allah maha besar. Ada 22 anak desa ku yang mendapat Kartu Bebas Biaya Sekolah (KBBS) dari pemerintah tetapi tidak mau melanjutkan sekolah ke SMP Negeri karena jauhnya jarak dan kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu dilimpahkan ke sekolah kami yang baru berdiri. Berita pun menyebar seiring gaung media massa dan elektronik tentang sekolah gratis. Sekolah gratis, dapat baju dapat kaos, dapat sepatu dan buku, dan dapat uang jalan. hampir seratusan siswa yang berasal dari anak-anak desa yang baru lulus dan drop out (DO) setahun dua tahun masuk sekolah. Malah ada seorang anak yang melewati batas usia sekolah memaksa masuk.
Sebuah angka fantastis untuk sekolah yang baru berdiri. Sayang tidak bertahan lama. Tak ada lagi penjual gorengan di samping sekolah dan gelak tawa anak-anak dan guru-gurunya sewaktu istirahat. Menghilang seiring kebijakan dari SMP Negeri yang tadinya mengizinkan sekolah kami membuka kelas jauh lalu berubah mengharuskan anak-anak sekolah di sana.
Apa yang terjadi kemudian?
Sepertiga bertahan, sepertiga lebih ke SMP Negeri, dan selebihnya entah di mana. Mungkin kembali menjalani keseharian mereka berpeluh membantu orangtua.
30-an anak yang bertahan. Alhamdulillah, mantra-mantra harus sekolah di SMP Negeri, dapat baju dapat kaos, dapat segala tidak berpengaruh. Nyanyian perkutut jangan sekolah di MTs., harus bayaran, ujian ke mana?, ilegal, tidak membuat mereka manut.
Kini, perjuangan dari nol. Bapak-bapak guru yang batal puasa menghilang satu persatu. Anak-anak mulai bosan di ajar karena sehari-hari  mereka hanya bertemu guru yang itu-itu saja. Babak belur mencari guru yang sanggup keringatnya tidak dibayar. Dan aku, harapan dari sedikit gaji CPNS kiranya bisa meliter BBM awan tuan guru, aamiin.
                                                                                                Bogor, 04 Oktober 2005

Senin, 19 Oktober 2015

Intan Hijau



Bunga, Kumilik senyum mu Sebatas reguk
Merasuk Jiwa ku Selintas mabuk

Detak jarum jam menunjuk angka setengah lima.
Intan hijau entah di mana.
Ku tulisi lembar demi lembar , tanpa ku tahu di mana gerangan yang di papar

Tumpahan tinta ini  semoga tak membuat marah
Pada intan hijau Yang selalu marak  merona merah
mengulas senyum merekah
Kadang membuat ku marah, namun selalu kalah
Bila tatapan sendunya atau seulas senyumnya remukkan kegundahan hati
Ingin ku miliki, namun entah kengapa hanya bayang ku cumbui

Malam ku tulisi kisah, Senandung tangisi resah
Mengulang mengisi gundah, Mengerang teriaki susah
Kala jabatan akhir pisah, Entah sampai atau tidak
Dalam batas mimpi, Mengenang canda penuh arti
Pada mu, Kau yang hantarkan aku dalam keterasingan
Dalam rindu dalam dendam kasmaran
Merekam – rekam bayang mu, Dalam ragu penuh kelu, Ku intip, ku kuliti tubuh mu
Biduk mu menyimpan remah, Aku bingung mengarah langkah
Jantung ku berdetak pas – pasan
Menunggu jawab mu, ku tahu tak mungkin
aku akan terus ke belakang, sampai batas tak tersampaikan
merenda hari ku dengan mimpi. , merayapi kenangan hari dengan noda dengan dosa

wahai kau kekasih ,  cinta dan rindu ku membuat ku terbelenggu
pengorbanan ku adalah kesia – siaan, gayung tak bersambut
manja ku pasif kan langkah
untuk mu, untuk ketakpedulian
puaskan lah hati mu, nikmati kehancuran ku
dengan lagu, sesaat dalam kenangan

saat – saat bersama mu, saat – saat penuh bisu
dalam khayal ku kau idola
hadir mu di searah pandang ku
gerak mu, tarian ilusi.
suara mu, kidung centini
tak kuasa ku melepas bayang, mau ku menguras petang
mengganti rindu jadi nyata, nyanyi pilu jadi bahagia
lampu – lampu itu, abadi lah semoga
jentik – jentik kasih, ber onggok – onggok sudah
usah pula kau tebas ketaksukaan mu
biarlah ku nikmati walau sesaat
duri – duri, daging – daging ikan itu. saksi – saksi, dayang – dayang tangan kita
hari – hari, kasih – sayang bersama mu, mari sini, ulang – ulang jangan lupa
lupa karena kekasih punya, lupa pula indah-nya canda. lupa diri merasa cua, kau pergi aku merana
ALI-290795rev